Baju yang licin karena di strika biasanya lebih rapi jika dibandingkan dengan baju kusut setelah kering dicuci. Kepercayaan tersebut hampir dimiliki oleh banyak orang di dunia, tapi mungkin tidak di Jepang. Karena masyarakat setempat menganggap kaos kusut (tidak distrika) belum tentu tidak rapi. Tepat waktu disiplin dan selalu cinta dan menjaga lingkungan, adalah karakter khas orang Jepang kebanyakan. Sehingga dalam urusan transportasi, mereka hanya memilih transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Selain lebih ramah lingkungan, cara ini membuat masyarakat Jepang mudah mengestimasi waktu mereka untuk urusan lain, seperti kerja, sekolah dan sebagainya.
Bagi orang Jepang, waktu adalah hal paling dimanfaatkan, melebihi segalanya. Sehingga apapun kegiatannya, dirancang secara se-efisien mungkin. Diantaranya, kebanyakan diantara mereka percaya bahwa menyetrika baju adalah hal sia-sia. Bahkan untuk urusan kegiatan rumah tangga, kegiatan menyetrika sering tidak ada dalam daftar. Kebanyakan orang Jepang, akan memulai aktivitas rumah tangga setelah mereka menikah. Hal paling mereka anggap penting dalam hal ini adalah memasak. Dimana rutinitas seorang istri setelah menikah adalah berbelanja, memasak dan membersihkan rumah atau baju. Lalu bagaimana dengan menyetrika?
Sebuah pengalaman seseorang WNI bersuami orang Jepang yang tertuang dalam catatan di blog mengungkap, saat menyetrika, sang suami langsung menegurnya. Karena biasanya, tak semua jenis pakaian bisa disetrika. Hanya pakaian formal saja yang bisa disetrika, seperti kemeja kerja dan sapu tangan. Selebihnya, seperti kaos dan baju non formal lain biasanya dibiarkan kusam tanpa disetrika. Yang unik, meski tak di setrika, baju yang dikenakan tak terlihat kusut, dan rahasianya adalah jemuran khusus. Karena umumnya, jemuran yang biasa digunakan orang jepang berbeda dengan jenis jemuran yang digunakan di Indonesia. Dimana jemuran di Jepang umumnya berbentuk segi empat dan biasa terbuat dari plastik atau bersih.
Dengan jemuran jenis ini, baju yang habis dicuci dijemur dengan teknik jepitan di setiap sisinya. Dan, percaya atau tidak, hal ini akan membuat baju “tersetrika” secara alami oleh sinar matahari. Sehingga acara setrika kini menjadi hal paling sia-sia bagi masyarakat Jepang. Dan benar saja, setelah baju kering orang Jepang biasanya langsung melipat dan tinggal menaruhnya di lemari sablon kaos. Satu hal lagi soal urusan cuci baju orang Jepang adalah efisiensi waktu untuk didelegasikan ke kegiatan yang lebih penting. Seperti untuk urusan baju yang susah dicuci, biasanya warung dry cleaning mudah dijumpai, seperti warung kaki lima di Indonesia. Banyak kegiatan sering diukur dengan efisiensi waktu. Sehingga untuk kegiatan yang dianggap kurang penting (Karena bisa dilakukan dengan cara yang lain), maka secara otomatis akan dihilangkan. Seperti kegiatan menstrika baju setiap hari.